PENYEBAB KERUSAKAN HUTAN BAKAU DI BALIK PAPAN


Faktor utama penyebab kerusakan hutan bakau di Balikpapan adalah bisnis kelapa sawit, industri pesisir, dan perumahan. Terhitung 20 ribu hektar kawasan hutan bakau mengalami kerusakan. Sebagian besar dari hutan bakau yang rusak tersebut telah berganti menjadi perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengelolaannya.

Kasus pengrusakan hutan bakau di Balikpapan terus meningkat setiap tahunnya. Sekitar 14 ribu hektar hutan bakau di Balikpapan Barat dan Balikpapan Utara serta 6 ribu hektar hutan bakau di Balikpapan Timur mengalami kerusakan. Wilayah Teluk Balikpapan yang merupakan lokasi deretan hutan bakau di pesisir barat Balikpapan, banyak ditemui sampah plastik dan rokok yang menyangkut di ranting ataupun mendangkalkan perairan teluk. Pengembangan perkebunan kelapa sawit, industri pesisir terutama Kawasan Industri Kariangau dan kompleks perumahan besar telah menebang bakau di tepi pantai dan pinggiran sungai di teluk ini. Penebangan yang paling parah terjadi di wilayah Ulu teluk, kawasan ini menjadi gersang akibat konversi lahan yang ekstensif untuk perkebunan sawit dan pabrik pengolahannya. Kebijakan pemerintah untuk membabat 30% atau 6 hektar dari hutan bakau di wilayah Teluk Balikpapan mengakibatkan kian terbukanya akses kawasan yang menjadi habitat satwa langka seperti bekantan yang jumlahnya tinggal 400 ekor di Balikpapan.

Pembangunan Jembatan Pulau Balang yang membutuhkan tiang jembatan, jalan penghubung ke Balikpapan beserta pagar pembatas mengakibatkan perambahan dan konversi hutan besar-besaran serta hancurnya semua koridor satwa yang menghubungkan ekosistem bakau dengan Hutan Sungai Wain. Pembangunan tiang pancang jembatan tersebut juga mengancam kelestarian terumbu karang.

Kajian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) di Teluk Balikpapan pun diketahui tidak berdasarkan investigasi lapangan yang rinci dan sering menggunakan data palsu. 

Di wilayah Batuampar dan di wilayah Manggar, sebagian bakau ditebang habis oleh warga untuk dibangun tempat usaha ikan dan membuat alat penangkap ikan, di wilayah Margomulyo hingga Somber, hutan bakau sudah berubah menjadi pelabuhan-pelabuhan khusus perusahaan besar. Di jembatan hutan bakau Margomulyo, terdapat banyak sampah plastik makanan, minuman juga deterjen. Pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat setiap harinya secara tidak langsung turut memusnahkan hutan bakau di rawa-rawa dan pinggiran laut yang dialihfungsikan menjadi sasaran pembangunan rumah-rumah dan tempat usaha.  Di pinggiran Sungai Somber, hutan bakau telah dibabat dan dijadikan pemukiman warga.
Di Sungai Tempadung, bakau dibabat oleh beberapa pabrik pengelolaan kelapa sawit mentah (CPO), padahal wilayah di luar Industri Kariangau tersebut merupakan kawasan lindung.  Di wilayah Muara Tempadung, beberapa perusahaan membangun pabrik pengelolaan minyak sawit mentah yang terdiri dari kilang, gudang dan pabrik tepat di kawasan bakau.  Sedangkan di wilayah Solok Puda, perusahaan pelabuhan di sana telah membuka dan mengeruk tanah hutan bakau seluas tiga hektar di sepanjang sungai dan menimbunnya untuk dijadikan tempat kontainer pelabuhan peti kemas Kariangau.


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Entri Populer

Daftar Blog